Mycourse Material   |  Insight    | Hobby  | Contact

Berbuat bagi mereka yang termarginalkan

Kompas 20 Mei 2014,
http://epaper1.kompas.com/kompas/books/140520kompas/#/27/

MEREKA terlahir bukan dari keluarga konglomerat atau penguasa politik di negeri ini. Mereka terlahir dari keluarga sederhana yang hidup di kampung atau gang-gang kecil di negeri ini. Namun, dari keterbatasan dan kesederhanaan itulah, mereka justru menjadi manusia yang sukses dan mulia untuk kebahagiaan dan masa depan orang lain.

Mereka meluangkan waktu, pikiran, harta, dan kemampuannya untuk memotivasi kelompok masyarakat yang terpenjara dalam keputusasaan dan penyakit menjadi manusia yang berharga. Mereka bukan pejuang dalam situasi perang, mereka yang bukan siapa-siapa menjadi pahlawan di tengah kota yang tak acuh dan anomi ini.

@hanamadness

Akan tetapi, siapa sangka jika di usia begitu muda, ditambah penyakit yang diidapnya, kini ia justru mampu bertahan dan hidup mandiri berbekal bakat yang terus diasahnya.

Hana pun tidak pernah membayangkan hidupnya bisa berbalik menjadi lebih baik. Sejak kecil, Hana tahu ada yang tidak beres dengan dirinya. Menginjak SMP, ia malah pernah minta kepada ibunya untuk dibawa ke psikiater. ”Tetapi, orangtua belum terbuka untuk masalah itu. Tanpa dukungan mereka, waktu SMP-SMA itu saya sering kali depresi, mengurung diri di kamar berhari-hari,” katanya.

Hana juga kurang cocok dengan teman-teman di sekolah sehingga ia cenderung mencari orang yang bisa menerimanya di luar sekolah dan keluarga. Tidak heran ia sering kabur dari rumah, sampai diusir oleh orangtuanya. Saat kabur dari rumah terakhir kali, ada teman yang membawanya ke psikiater. ”Baru deh saya tahu apa yang terjadi pada diri saya,” kata Hana.

Bertemu di tempat tinggalnya di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, awal Mei lalu, Hana tampil ceria. Sosoknya mudah dikenali. Cantik dengan rambut lurus panjang serta tato menghias sebagian anggota tubuhnya. Sejak dulu, tato menjadi salah satu pelarian Hana ketika dirinya merasa kesakitan dan tidak tahu harus berbuat apa untuk meredakannya. Ia sendiri yang mendesain tatonya.

Menggambar dan mendesain untuk berbagai produk, seperti kaus, stiker, sampai kartu pos, merupakan bakat terbesarnya. Beberapa coretan tangannya telah dibeli oleh perusahaan korek api gas terkenal dan menghiasi produk khusus perusahaan itu. Hana mengatakan, mandiri dengan mengelola bakatnya membuat ia merasa hidup dan amat normal. Ia kini tetap menerapkan perawatan kesehatan ketat sebagai penderita bipolar dan skizofrenia .

Hubungan dengan orangtua dan keluarganya yang dulu buruk kini membaik. Tak sebatas itu, Hana juga aktif menjadi pembicara dan motivator dalam berbagai diskusi ataupun seminar terkait bipolar dan skizofrenia. ”Beberapa pekan lalu, saya diundang ke Bandung untuk jadi pembicara bersama ahli jiwa yang sudah lulus S-3,” kata Hana saat ditemui di tempat tinggalnya.

Pengalaman dirawat di banyak tempat perawatan bagi pengidap skizofrenia menyebabkan ia bisa berempati bagi sesama penderita. Ia juga meminta masyarakat menghentikan memanggil penderita seperti dirinya sebagai orang gila. Cap gila itu membuat penderita skizofrenia merasa tak berharga. Padahal, dengan perawatan kesehatan yang benar dan dukungan keluarga, mereka bisa hidup mandiri, bahkan bermanfaat bagi orang lain. (Neli Triana/PRIyombodo)

Nurrohim

Banyak anak jalanan merasa tidak memiliki masa depan. Mereka beranggapan, mimpi indah itu hanyalah milik kaum berada. Nurrohim (42) tidak memercayainya. Menurut dia, masa depan adalah hak semua orang jika memang ingin mendapatkannya dan masa depan itu hanya bisa diraih melalui pendidikan.

Sayangnya, tidak semua warga mendapatkan akses itu. Anak jalanan lebih banyak menjadi pelengkap penderita ketatnya kehidupan kota, tidak terkecuali di sekitar Terminal Kota Depok. Berangkat dari kenyataan itu, sejak tahun 2000 pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, ini merintis pendirian sekolah dari dana patungan.

Pendidikan dilakukan di sebuah masjid di Terminal Kota Depok dengan kondisi yang serba terbatas. Awalnya, tidak mudah membangkitkan semangat belajar anak jalanan yang telanjur apatis terhadap kehidupan. Tidak banyak yang yakin masa depan bisa dikejar dengan kerja keras. ”Kami menyampaikan kepada mereka, takdir manusia bisa diubah, sejauh ada kemauan. Setiap manusia memiliki pilihan hidup. Kami akan bantu mereka ke masa depan yang diinginkan. Kami tidak main-main,” katanya.

Ayah empat anak ini kemudian mengorganisasi sukarelawan dan donatur. Dana tersebut dipakai untuk operasional Sekolah Master, kependekan dari Masjid Terminal. Gerakan ini kemudian berkembang, menggeliat seperti semangat Nurrohim mengentaskan nasib anak jalanan. Mereka bisa bersekolah tanpa harus tersekat-sekat oleh formalitas kelas, seragam, dan biaya. Ilmu pengetahuan yang sebelumnya kering akhirnya mengalir ke anak-anak jalanan. Kegiatan yang semula dicibir banyak orang itu kini mampu menyedot sekitar 1.600 siswa. Sekolah Master memiliki nama formal Yayasan Bina Insan Manditri.

Sekolah ini kini mengelola kegiatan pendidikan kejar Paket A setingkat SD, kejar Paket B setingkat SMP, dan kejar Paket C setara SMA. Jumlah siswa sekolah terbuka sekitar 500 orang dan 1.600 siswa bergabung dalam sekolah nonformal.

Anak-anak jalanan itu belajar di 16 ruang kelas, 2 laboratorium komputer, 2 studio musik dan tari, 1 ruang praktik garmen, serta 1 ruang salon kecantikan. Adapun guru sekolah terdiri dari 60 guru tetap dan 50 guru tidak tetap. Bagi lulusan terbaik, pengelola menghubungkan mereka kepada penyedia lapangan pekerjaan.

Sekolah ini menempati tanah wakaf seluas 6.000 meter persegi di tengah Terminal Kota Depok. Sebagian ruang sekolah menempati rumah toko yang disewa pengelola di sekitar sekolah. Selain bangunan semipermanen dan permanen, sebagian besar bangunan sekolah juga berupa kotak peti kemas. Sekolah yang semula menjadi anak bawang itu kini mulai diperhitungkan. Hampir setiap tahun lulusan Sekolah Master mampu menembus perguruan tinggi negeri ataupun perguruan tinggi swasta berkualitas. Perjuangan belum selesai, katanya.(Andy Riza Hidayat)

Dato’ Sri Tahir

Dalam hidup, tidak salah jika ada keinginan untuk meraih kesuksesan, bahkan kesuksesan itu memang perlu diperjuangkan. Namun, jika sukses sudah diraih, maka cara turun dan mengakhiri jalan kehidupan juga harus elegan serta meninggalkan nama baik. Jangan sampai, masa akhir kehidupannya malah berbuat buruk. Jangan sampai, menjelang pensiun, atau bahkan ketika pensiun, malah dipenjara dan tidak disukai banyak orang.

Inilah yang mengilhami Dato’ Sri Tahir, pendiri Mayapada Group. Sejak beberapa tahun terakhir, ia sudah memutuskan untuk menjadikan kegiatan filantropi sebagai aktivitas utamanya saat menapaki tangga menurun dalam kehidupannya. Bukan sekadar komitmen pada dunia filantropi, ia juga bersikukuh untuk membantu masyarakat Indonesia.

”Ibarat orang yang sudah naik panggung, saya sekarang ingin turun panggung dengan jalan yang gagah, punggung yang tegak,” ujar Tahir yang tetap senang menyantap kambing muda bakar menu Timur Tengah.

Tahir lahir di Surabaya, 26 Maret 1952, dikenal sebagai pengusaha yang sukses. Sebelum memasuki dunia filantropi, bisnisnya antara lain garmen, perbankan, media, properti, serta rumah sakit.

Ia dibesarkan dalam keluarga yang sederhana dan tinggal di sebuah gang di kawasan masyarakat yang tidak mampu. Ayahnya menghidupi keluarga dengan membuat dan mereparasi becak. Ibunya pun turut membantu dengan mengecat becak. Tidak heran Tahir pun amat dekat dengan masyarakat bawah dan terbiasa bekerja keras.

”Saya amat terkenang dengan kondisi ketika itu. Salah satu ingatan yang amat melekat saat ini, suatu ketika ibu saya kepalanya terluka karena dipukul orang dengan batu ketika menagih utang. Tetapi orangtua saya memang orang-orang kuat, tetap besar hati dan tidak mendendam. Yang jelas, mereka pekerja ulet yang tidak mau berpangku tangan,” ujar Tahir yang dalam bertindak selalu diilhami semangat kerja keras orangtuanya.

Sebetulnya, setelah menamatkan SMA tahun 1971, Tahir bercita-cita menjadi dokter. Bukan untuk menjadi orang hebat atau kaya, melainkan agar bisa membantu orang. Pasalnya, ketika kecil, ia melihat, banyak tetangganya dan orang-orang yang ia kenal tidak mampu berobat. Tidak sedikit orang-orang yang ia kenal dan sakit itu akhirnya meninggal dan belum sempat mendapat layanan pengobatan. Bahkan, ayahnya pun meninggal karena sakit yang dideritanya.

”Mungkin sudah rencana Tuhan, ayah sakit keras, saya pun harus berhenti kuliah karena tidak cukup biaya, dan saya harus melanjutkan bisnis keluarga di Surabaya,” ujarnya.

Putus kuliah dan terjun ke bisnis bukan berarti menghentikan cita-cita menyelesaikan kuliah. Itu sebabnya, ia kemudian mencari beasiswa untuk bisa menyelesaikan kuliah. Akhirnya, Tahir mendapat beasiswa untuk belajar bidang bisnis di Universitas Nanyang, Singapura.

Rupanya, bukan hanya belajar, di Singapura ia pun tetap menjalankan bisnis. Tahir membeli sejumlah barang di Singapura, kemudian dijual di Indonesia. Namun, pengalaman hidup susah ini juga yang membuatnya ingin memberikan beasiswa kepada orang yang kesulitan biaya.

”Yang jelas, di Indonesia saya lahir, besar, dan berusaha. Saya bisa besar karena rakyat Indonesia, jadi mengapa tidak membantu rakyat Indonesia,” ujarnya. (Imam Prihadiyoko)

Ricardo Hutahaean

Lahir dan besar di lingkungan ”liar” menjadi bekal berharga bagi Ricardo Hutahaean (38). Hatinya selalu tertuju kepada tetangga, saudara, dan warga Kampung Beting Remaja di Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, yang rata-rata hidup di bawah standar layak.

Bagi warga Beting Remaja, Ricardo adalah pahlawan, orang yang pontang-panting memperjuangkan kebutuhan dasarnya. Hari-hari ini, misalnya, Ricardo tengah memperjuangkan air bersih bagi ratusan keluarga di RW 019 Tugu Utara. Sambungan air terancam putus menyusul surat edaran yang meminta uang jaminan Rp 7,5 juta, angka yang terbilang tinggi dan tak sanggup dibayar oleh warga.

Sejak tahun 1997, sebagian waktu Ricardo habis untuk membantu warga, mayoritas terkait urusan dasar. Dia, antara lain, memperjuangkan hak warga untuk mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan, hak sipil sebagai warga negara, serta kebutuhan dasar, seperti air dan listrik. Tak sedikit warga miskin Beting Remaja gagal mengakses layanan program jaminan kesehatan, bantuan pendidikan, dan program bantuan lain, seperti beras untuk rakyat miskin, gara-gara tak punya kartu tanda penduduk (KTP).

”Sampai tahun lalu, pemerintah tak mau memberikan KTP karena warga dianggap sebagai penghuni liar. Padahal, KTP dan jaminan kesehatan adalah hak setiap warga.” Tahun lalu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya memberikan KTP bagi warga Beting Remaja. Saat menyerahkan KTP secara simbolis, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berpesan, KTP adalah dokumen kependudukan yang membantu warga mengakses hak-hak sipilnya, bukan alat legitimasi atas kepemilikan lahan.

Selain hak sipil, Ricardo juga masuk ke ruang-ruang keluarga untuk membantu pengasuhan anak. Akibat impitan ekonomi, tak sedikit anak-anak di kampungnya turun ke jalan menjadi pengamen, peminta-minta, atau terjerumus ke tindak pidana.

Lewat Arsari Sanggar Anak Mandiri, Ricardo membekali anak-anak Beting Remaja melalui pendidikan anak usia dini (PAUD), bimbingan belajar, dan sanggar. Sanggar yang bernaung di bawah Yayasan Titian Harapan itu juga menggelar posyandu, memberi beasiswa, dan menjadi mitra pemberdayaan keluarga.

Ricardo dan relawan lain, sebagian adalah remaja alumnus sanggar, menjadi mentor dalam pengasuhan anak. Dia, antara lain, mengajarkan pentingnya melindungi anak-anak dari penjahat seksual, memberikan pengetahuan kesehatan reproduksi, dan bahaya narkoba. Ricardo bersyukur mendapat bantuan dari banyak orang sehingga bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, jauh lebih baik dibandingkan teman-temannya. Oleh karena itu, dia merasa harus mengabdikan hidupnya untuk membantu orang lain.

Ricardo kini dipercaya menjadi Ketua RW 019 Tugu Utara. Meski berpeluang memiliki pekerjaan lebih baik dengan gaji tinggi, Ricardo memilih mendampingi warga, bergelut sebagai pekerja sosial. Ada kepuasan tersendiri bagi suami Larisma Betty Siregar ini. (Mukhamad Kurniawan).

                  Kembali ke Mycourse material                                     ke halaman berikutnya

 

Highlight Box

Komitment(2014)

 

 

 

 

Berdukacita atas dosa-dosa di masa lalu, itu bagus, tapi belum mencukupi: kita harus lapar akan kebenaran di masa yang akan datang - Jhon Stott

Missiologi - Georges W.Peters

Bosch Paradigma misi

Bosch Missio Dei

Hidup Yesus 302 (300KB)

Hidup Yesus 303 (27MB)

Be more concerned with your character than your reputation, because your character is what you really are, while your reputation is merely what you think you are. 
– John Wooden 

 

 

 

 

This Web Page Created with PageBreeze Free HTML Editor / Best Web Hosting